Bahasa, Jati Diri Bangsa

  • 14 November 2018
  • Dibaca: Pengunjung
http://purwodadimekar-lampungtimur.desa.id/upload/2018/11/FILE0925.JPG

Yudi Helimarko_Binar Institut//–Bahasa Indonesia adalah bahasa negara sebagaimana tertuang dalam pasal 36 Undang – undang Dasar 1945. Oleh karena itu semua warga negara Indonesia wajib menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

      Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan hasrat seluruk rakyat Indonesia. Hal tersebut tertuang dalam Ketetapan MPR No. II/MPR/1988 tentang Garis – Garis Besar Haluan Negara Sektor Kebudayaan butir f, yang menyatakan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia perlu terus ditingkatkan, serta penggunaanya secara baik, benar, dan penuh kebanggaan perlu dimasyarakatkan sehingga bahasa Indonesia menjadi wahana komunikasi yang mampu memperkokoh persatuan dan kesatuan serta mendukung pembangunan bangsa (GBHN, 1988 : 42)

    Semua warga negara berkewajiban membina diri masing – masing dalam pemakaian bahasa Indonesia, agar bahasa itu mampu tumbuh sesuai kaidah yang berlaku. Berbicara kewajiban, maka disinilah letak kelemahan bangsa Indonesia dalam membina dan mengembangkan bahasa resmi negaranya sendiri. Tak sedikit rakyat biasa hingga pejabat tinggi negara yang kurang percaya diri terhadap penggunaan bahasa indonesia, bahkan tak sedikit pula lembaga pendidikan yang dengan bangganya mewajibkan peserta didiknya untuk menggunakan bahasa asing dalam aktivitas belajarnya. Hal inilah yang secara perlahan menggerus kecintaan dan kebanggaan terhadap bahasa negara yang kita miliki. Apalagi kalau sudah sampai pada penggunaan kaidah bahasa yang berlaku, pasti akan mengatakan “Ah, masa bodoh soal kaidah bahasa Indonesia, itu kan urusan ahli bahasa”, atau “Ah, salah ejaan tidak apa – apa, yang penting dapat dipahami dan komunikatif”, bahkan yang sangat memalukan dengan sengaja menyisipkan kosakata asing hanya karena ingin tampak “gagah” dan menunjukkan tingkat keintelektualanya, padahal si penutur tahu dan sangat paham bahwa pendengarnya tidak memahami kosa kata yang diucapkan.

    Pertanyaanya, apakah sebagai bangsa yang besar kita tidak ingin menginternasionalkan bahasa kita sendiri? Sehingga orang asinglah yang justru ingin belajar bahasa Indonesia untuk kepentingan di negaranya maupun dinegara kita. Bukan sebaliknya, yang hanya seolah – olah kita tidak akan menguasai dunia kalau belum menguasai bahasa asing, kita harus belajar bahasa asing untuk mendapatkan peluang kerja dinegara sendiri, bahkan kita harus menguasai bahasa asing hanya sekedar ingin lulus dari ujian sekolah maupun ujian memasuki lembaga pendidikan di negara sendiri. Bahkan ada pelajar yang mengahiri hidupnya karena tidak lulus sekolah karena nilai pelajaran bahasa asingnya tidak melewati standar kelulusan. Kita harus bangga, ratusan tahun terjajah oleh negara asing, namun budaya dan bahasa kita masih tetap mampu dipertahankan sehingga bangsa kita masih memiliki identitas tersendiri sampai detik ini. 

     Hemat penulis, silakan terus dan teruskanlah menguasai bahasa asing sekedar untuk menguasai ilmu pengetahuan, namun jangan sampai terlena sehingga hilang kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia bahkan malu saat menggunakan bahasa Indonesia. Ingat !, jauh sebelum Indonesia merdeka, bahasa Indonesia telah di sepakati sebagai bahasa pemersatu dan identitas bangsa, bahkan dengan taruhan nyawa untuk mempertahankan itu, apakah kita lupa bahwa setiap tahun peringatan sejarah itu diteriak – teriakkan dengan lantang oleh segenab bangsa ini? Jawabanya adalah sumpah pada 28 Oktober 1928 yang kita peringati setiap tahun itu. Sumpah itulah salah satu pembakar semangat berdirinya negara Indonesia tercinta ini.

(red/bi_ud)